running text

HIDAYATUL ULUM MARGALUYU

Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 September 2011

LEBARAN ADALAH SYMBOL KEMENANGAN BAGI KAUM MU’MININ DAN MU’MINAT

 Apabila tiba pada hari pertama bulan syawal, setelah sebulan penuh kaum mu’minin dan mu’minat menjalankan ibadah shoum, kita sering mendengar bahkan kita pribadi yang mengucapkannya ketika kita bertemu teman, keluarga, tetangga kita selalu membaca:

مِنَ الْعَا ئِـدِيْنَ وَالْفـَائـِزِيْنَ

Minal 'Aidin Wal Faizin

 Yang lengkapnya adalah ;

  اللـَّهـمَّ اجْعـَلْـنـَا مِنَ الْعَا ئِـدِيْنَ وَالْفـَائـِزِيْنَ  

Allohummaj'alnaa Minal 'Aidin Wal Faizin
 atau

 جَعـَلـَـنـَا اللهُ مِنَ الْعَا ئِـدِيْنَ وَالْفـَائـِزِيْنَ

Ja'alanaallohu Minal 'Aidin Wal Faizin

"Semoga Allah menjadikan kita semua (orang-orang mu’min) dari golongan orang-orang yang kembali kepada kesucian dan orang-orang yang mendapat kebahagiaan"

 Mengapa harus di do’akan supaya kita kembali kepada kesucian? Sebab awalnya, sebelum terkontaminasi oleh polusi dosa manusia itu suci, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

 كـُلُّ مَـوْلـُوْدٍ يـُوْ لـَدُ عـَلـَى الـْفِـطـْرَةِ فــَأ بَـوَاهُ يُـهـَوِّدَانـِهِ وَيـُنـَصِّـرَانِـهِ وَ يـُمـَجـِّسَانـِهِ

Kullu mauluudin  yuuladu 'alal fitroh fa abawaahu duhawwidaanihi wa dunashshiroonihi wa yumajjisaanihi

"Setiap bayi yang lahir, terlahir dalam kedaan suci maka ibu dan bapaknya yang mengyahudikan, menashronikan, dan memajusikannya "(Al-Hadits)


 Maksud suci disini adalah sesuai dengan ketentuan agama, seperti apa yang terkandung dalam firman Allah SWT Qs. Ar-rum ayat 30

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”

 Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan. sehingga pada praktek dan kenyataannya banyak manusia yang menentang Allah SWT sebagai tuhan yang esa, bahkan tidak sedikit manusia yang mengaku mu'min tetapi gemar berbuat dosa. oleh karena itu apabila tiba 1 syawal, setelah menjalankan ibadah shoum Ramadhan selalu di do'akan ;

 مِنَ الْعَا ئِـدِيْنَ وَالْفـَائـِزِيْنَ
 
Minal 'Aidin Wal Faizin
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

 مَـنْ صَـامَ رَمَـضَـانَ اِيْـمَـانًـا وَاحْـتِـسَـابًـا غـُفِـرَ لـَهُ مَـا تـَقـَدَّمَ مِـنْ ذ َنْـبـِهِ

Man shooma romadhoona iimaanan wahtisaaban ghufiro lahu maa taqoddama min dzambihi

Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan keikhlasan maka akan diampuni semua dosa yang telah di lakukannya (Al-hadits)

 Menurut keterangan bahwa yang dimaksud semua dosa yang mendapat ampunan itu yakni As-Shoghoir ( dosa-dosa kecil ), artinya ada dosa yang tidak dapat dikifarati dengan puasa kecuali hanya harus dengan jalan bertaubat. Tapi meskipun demikian mengharapkan diampuni semua dosa, itu bukan merupakan sebuah kesalahan, bahkan dianjurkan. Apalagi setelah melaksanakan ibadah shoum di bulan suci Ramadhan, ini merupakan momentum yang sangat tepat. Tetapi harus diingat bahwa tidak setiap orang yang berpuasa akan diampuni semua dosanya, oleh karena itu supaya kita bisa mendapatkan A’idin (kembali kepada kesucian) maka kita harus”

 1. Bertaubat
 2. Bertaqwa
 3. Istiqomah mendirikan shalat
 4. Tidak berbuat musyrik

 Sedangkan supaya kita mendapatkan kebahagian (Faizin) maka;

 1. Kita harus memegang teguh keimanan
 2. Mau berpindah dari gelap (berbuat dosa, musyrik, kafir, ma’siyat) kepada terang 
     (meninggalkan dosa), tidak musyrik, beriman, berlaku tho’at) atau hijrah dalam arti
     mujahadatun nafsi.
 3. Mau meninggikan agama Allah (berjihad) baik dengan harta ataupun nyawa.

 لـَيْشَ الـْعـِيْـدُ لـِمـَنْ لـَبـِسَ الـْجـَدِيْـدَ وَ لـَكـِنَّ الـْعـِيْـدَ لـِمـَنْ طـَاعـَتـُهُ تـَزِيـْد

Laisall 'Ida liman labisal jadida wa lakinnal 'ida liman tho'atuhu taziid
"Lebaran Bukanlah bagi orang yang pakaiannya bagus, melainkan bagi orang yang keta'atannya bertambah"


Minggu, 14 Agustus 2011

Dahsyatnya Gelombang Penghancur Iman Dan Akhlaq


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّا بَعْدُ؛
 فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.


Ada gelombang dahsyat yang menimpa ummat Islam sedunia, yaitu gelombang budaya jahiliyah yang merusak akhlaq dan aqidah manusia yang disebarkan lewat televisi dan media lainnya. Gelombang itu pada hakekatnya lebih ganas dibanding senjata-senjata nuklir yang sering dipersoalkan secara internasional. Hanya saja gelombang dahsyat itu karena sasarannya merusak akhlaq dan aqidah, sedang yang paling menjunjung tinggi akhlaq dan aqidah itu adalah Islam, maka yang paling prihatin dan menjadi sasaran adalah ummat Islam. Hingga, sekalipun gelombang dahsyat itu telah melanda seluruh dunia, namun pembicaraan hanya sampai pada tarap keluhan para ulama dan Muslimin yang teguh imannya, serta sebagian ilmuwan yang obyektif.
Gelombang dahsyat itu tak lain adalah budaya jahiliyah yang disebarkan lewat aneka media massa, terutama televisi, VCD/ CD, radio, majalah, tabloid, koran,dan buku-buku yang merusak akhlak.
Dunia Islam seakan menangis menghadapi gelombang dahhsyat itu. Bukan hanya di Indonesia, namun di negara-negara lain pun dilanda gelombang dahsyat yang amat merusak ini.
Di antara pengaruh negatif televisi adalah membangkitkan naluri kebinatangan secara dini... dan dampak dari itu semua adalah merosotnya akhlak dan kesalahan yang sangat mengerikan yang dirancang untuk menabrak norma-norma masyarakat. Ada sejumlah contoh bagi kita dari pengkajian Charterz (seorang peneliti) yang berharga dalam masalah ini di antaranya ia berkata: “Sesungguhnya pembangkitan syahwat dan penayangan gambar-gambar porno, dan visualisasi (penampakan gambar) trik-trik porno, di mana sang bintang film menanamkan rasa senang dan membangkitkan syahwat bagi para penonton dengan cara yang sangat fulqar  bagi kalangan anak-anak dan remaja itu amat sangat berbahaya.”
Peneliti ini telah mengadakan statistik kumpulan film-film yang ditayangkan untuk anak-anak sedunia, ia mendapatkan bahwa:
  • 29,6% film anak-anak bertemakan seks
  • 27,4% film anak-anak tentang menanggulangi kejahatan
  • 15% film anak-anak berkisar sekitar percintaan dalam arti syahwat buka-bukaan.
Terdapat pula film-film yang menampilkan kekerasan yang menganjurkan untuk balas dendam, memaksa, dan brutal.
Hal itu dikuatkan oleh sarjana-sarjana psikologi bahwa berlebihan dalam menonton program-program televisi dan film mengakibatkan kegoncangan jiwa dan cenderung kepada sifat dendam dan merasa puas dengan nilai-nilai yang menyimpang. (Thibah Al-Yahya, Bashmat ‘alaa waladi/ tanda-tanda atas anakku, Darul Wathan, Riyadh, cetakan II, 1412H, hal 28).
Jangkauan lebih luas
Apa yang dikemukakan oleh peneliti beberapa tahun lalu itu ternyata tidak menjadi peringatan bagi para perusak akhlaq dan aqidah. Justru mereka tetap menggencarkan program-programnya dengan lebih dahsyat lagi dan lebih meluas lagi jangkauannya,